Sabtu, 09 Januari 2016

SI TULI & SI BUTA

  Ada seorang pria yang mencintai seorang wanita dengan keterbatasannya yaitu dia tak mampu mendengar (si tuli). Dia mencintai seorang wanita yang sering dia liat di taman kota saat sore hari. Wanita itu selalu duduk di taman kota dengan di temani tongkat lipatnya dan mengenakan kacamata hitamnya (si buta).
  Lama kelamaan si tuli makin penasaran sama si buta yang selalu duduk di taman kota itu, akhirnya dia memberanikan diri untuk menghampiri si buta itu tapi si tuli bingung cara berkomunikasi sama wanita yang dia sukai itu gimana? Sedangkan dia lupa membawa alat bantu dengarnya. Tapi ia tak bisa menahan diri lagi, dengan cara apapun ia harus berkenalan sama wanita yang ia suka itu.
Lalu ia menghampiri wanita itu menepuk pundaknyaa, seketika si buta itu kaget dan langsung bertanya siapa yang telah menepuk pundaknyaa. Si tuli pun bicara
" apakah aku boleh duduk disini dan berkenalan denganmu?"

si buta pun menjawab "iyaa boleh, duduk aja disini, nama aku sinta"
tapi si tuli tetap saja mengulangi pertanyaan yang sama ke si buta. Si buta pun berbicara di dalam hatinya
"apakah orang ini tuli? Dari tadi dia gak mendengar apa yang aku katakan? Apakah org ini ingin mengangguku saja? Atau dia ingin mengerjaiku saja? Lebih baik aku pulang".
Si buta pun beranjak pergi dari taman kota, dia membenarkan tongkat lipatnya dan berjalan menuju arah rumahnya yang tak jauh dari taman kota dan juga dia sudah sangat hafal jalannya. Si tuli pun kaget karena dia di tinggalkan begitu saja sama si buta. Tapi si tuli tidak menyerah begitu saja, mungkin kali ini dia tidak bisa berkenalan dengan si buta dan mengetahui siapa namanya tpi setidaknya si tuli sudah berusaha. Diam diam si tuli mengikuti si buta, si tuli mengawasi si buta agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada si buta sekaligus agar si tuli bisa tau juga dimana tempat tinggal si buta.
Keesokan harinya si tuli tidak ketinggalan alat pendengarnyaa, si tuli datang lebih awal ke taman kota ia berdiri di tempat biasa si buta duduk. Si tuli gelisah karna si buta belum juga datang, yang dia lakukan hanya mondar mondir saja dan berfikiran apakah si buta datang atau tidak?
Setelah satu jam kemudian dari sudut kanan si buta ternyata datang ke taman kota tempat dimana si buta biasanya menenangka diri dan menghilangnkan bosannya. Si tuli tersenyum puas karna seseorang yang dia suka ternyata datang, si tuli sudah berfikiran saja kalau si buta akan tidak datang lagi ke taman karna kejadian kemarin. Si buta pun duduk sambil melipat tongkatnya, si tuli pun berbicara

" haiii, apa aku boleh duduk disini?" si buta kaget mendengar suara yang sama seperti kemarin?
" Iyaa bolehh, duduk aja"
lalu si tuli duduk di samping si buta sambil bertanya
" oh iya kenalin nama aku ramdhani, nama kamu siapa? Aku sering sekali melihat kamu di taman ini saat aku pulang dari tempat kerjaku?"
si buta menjawab
" nama aku sinta, iyaa setiap sore aku selalu kesini buat nenangi diri aku biar ga bosen juga hehe"
" apa kamu selalu sendirian dateng kesini?"
" hmmm iyaa sendirian, kalau mendengar suara kamu gak asing buat aku, kemarin ada yang menyapaku suaranya sama persis dengan suara kamu?" si buta pun penasaran, apakah firasatnya benar atau tidak.
" itu suaraku, kemarin memang aku yang menyapamu, tapi kamu malah pergi gitu aja"
" jadi itu kamu, aku udah menjawab sapaan kamu, aku juga sudah kasih tau namaku tapi kamu menanyakan hal yang sama terus menerus"
" oh kamu sudah jawab hehe, maaf aku tuli, aku tidak mampu mendengar kalau gak pake alat bantu"
"Iyaa gak apa apa kok"
Ternyata firasat si buta pun benar, jika yang kemarin menyapanya dan sekarang yang duduk di samping dia adalah orang yang sama. Dia juga punya kekurangan seperti si buta.
Mereka pun kenal satu sama lain, dan sekarang si tuli gak usah lagi diam diam mengikuti si buta, sekarang si tuli bisa berjalan disamping si buta untuk mengantarnya pulang sambil mengobrol apa saja"
     
                              -to be continued-
            By: chalia maysinta                        
                                                

Selasa, 05 Januari 2016

BROKEN HOME

Aku lahir dengan menerima nasib sebagai anak yang broken home. Di saat kedua orang tuaku memutuskan berpisah demi kebaikkan kedua belah pihak situlah hidupku mulai hampa dan teramat sangat sepi, dan memilih salah satu dari mereka itu hal yang sangat menyakitkan lalu harus meninggalkan salah satu dari mereka berdua.

Keadaan pun memaksakan aku untuk ikut pergi bersama ayah dan meninggalkan bunda sama adik adik, hatiku terasa sesak sampai aku tidak bisa bernafas dengan normal, yang bisa aku lakukan hanyalah menangis dan menangis.

Aku tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh, aku harus menerima keluarga baru ayahku dan aku mulai hidup bersama mereka. Aku mengalami masa-masa yang sulit akibat perpisahan ayah bundaku, aku harus berdiri sendiri, aku harus melakukan apapun itu sendiri. Aku kadang suka ngomong sama diri aku sendiri kenapa harus aku gitu? Kenapa gak orang lain aja?

Hari demi hari aku jalanin hidup aku dengan semua kekuatanku, kadang aku alami rasa yang mungkin pernah di alami sama anak yang jadi korban perceraian orang tuanya, ngebatin sama keadaan, tertekan, stress, down, sampai sampai mungkin pernah berfikiran buat merusak diri sendiri, hancur dan sebagainya.Tapi aku memilih untuk gak hancur seperti keluargaku, aku berusaha jadi lebih baik lagi dari semua yang aku alami.
Mungkin aku sering kali merasakan kesepian dan kehampaan tapi tanpa aku sadari, aku punya orang orang yang merangkul aku dengan kasih sayang mereka dan menguatkan aku , meyakinkan aku kalau aku mampu lalui semua yang aku alami. Mereka yang selalu buat aku sejenak melupakan kesedihan aku, kepedihan aku, kesakitan aku.

Kadang gak sedikit orang-orang diluar sana menganggap kalau anak korban perceraian itu rusak dan hancur semua. Rusak atau hancurnya itu sebuah pilihan dari anak korban broken home, Kita memang anak broken home tapi hancur dan merusak diri sendiri itu adalah pilihan yang sangat buruk, seharusnya kita memotivasi diri dari apa yang pernah kita alami biar kita bisa jadi lebih baik lagi kedepannya, dan tunjukin ke mereka kalau kita juga mampu buat meraih dunia.